Langsung ke konten utama

Mengganti Lafadz Iqomah Di Makam



Takror Assunniyyah, Sa'il : Imam Syafii Cilacap

Ketika iqomah dlm proses penguburan mayit, yg betul qod qomatisholah/qod qomatil qiyamah? 

Rumusan jawaban 

Pergantian itu hukumnya HARAM.

Ibarot 

 ﺍﻟﺸﺮﻭﺍﻧﻰ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺹ: 468

 ﻗﻮﻟﻪ ﻓﺈﻥ ﺟﻌﻠﻪ ﺃﻯ ﻟﻔﻆ ﺣﻰ ﻋﻠﻰ ﺧﻴﺮ ﺍﻟﻌﻤﻞ ﻗﻮﻟﻪ ﻟﻢ ﻳﺼﺢ ﺃﺫﺍﻧﻪ ﻭﺍﻟﻘﻴﺎﺱ ﺣﻴﻨﺌﺬ ﺣﺮﻣﺘﻪ ﻷﻧﻪ ﺑﻪ ﺻﺎﺭ ﻣﺘﻌﺎﻃﻴﺎ ﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻓﺎﺳﺪة

 ﺇﻋﺎﻧﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ ﺍﻷﻭﻝ ﺹ271:

 ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻰ ﻓﺘﺢ ﺍﻟﻤﻌﻴﻦ ﻓﻰ ﺷﺮﺡ ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ " ﻣﻦ ﺃﺣﺪﺙ ﻓﻰ ﺃﻣﺮﻧﺎ ﻫﺬﺍ ﻣﺎ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻪ ﻓﻬﻮ ﺭﺩ ﻣﺎ ﻧﺼﻪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻰ ﺭﺿﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻣﺎ ﺃﺣﺪﺙ ﻭﺧﺎﻟﻒ ﻛﺘﺎﺑﺎ ﺃﻭ ﺳﻨﺔ ﺃﻭ ﺇﺟﻤﺎﻋﺎ ﺃﻭ ﺃﺛﺮﺍ ﻓﻬﻮ ﺍﻟﺒﺪﻋﺔ ﺍﻟﻀﺎﻟﺔ

إكمال المعلم شرح صحيح مسلم - للقاضي عياض * - (2 / 130)حدثنى أبى عبد الله بن زيد قال : لما أمَرَ رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) بالناقوسِ يُعملُ ، ليضرِبَ به الناس فى الجمع للصلوات ، طافَ بى وائا نالْم رجلٌ يحمل ناقوسأ فى يده ، فقلت : يا عبد الله ، أتبيعُ الناقوس ؟ قالوما تصنع به ؟ فقلتُ ، ندعو به إلى الصلاة ، قال : ائلا ادُلُّك على ما هو خير من ذلك ؟ فقلتُ له : بلى ، قال : فقال : تقولُ : للله أكبر الله كبر ، فذكر الاَذان مثنى مثنى ، قال : ثم استأخر عنى غير بعيد ، ثم قال

ثم تقول إذا أقيمت الصلاة : الله أكبر الله أكبر ، أشهد أن لا إله إلا الله ، أشهد أن محمداً رسول الله ، حى على الصلاة ، حىَّ على الفلاح ، قد قامت الصلاة قد قامت الصلاة ، الله أكبر ، الله كبر ، لا اله إلا الله-

قال : فلما أصبحتُ ائت النبى ( صلى الله عليه وسلم ) فأخبرتُهُ بما رايتُ ، فقال : (إنها لرؤيا حق إن شاء الله ، فقم مع بلالِفألق عليه ما راْيت فليؤذن به ، فإنه أندى صوتأ منك "فقمتُ مع بلال ، فجعلتُ ألقيه عليه ، ويزذن بهقال : فممع ذلك عمر بن الخطاب وهو فى بيته ، فخرِج يجُرُّ رداءه يقول : والذى بعثك بالحق يارسول الله صلى الله عليك ، لقد رأيتُ مثل ما رأىفقال رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) : (فله الحمد

حاشيتا قليوبي - وعميرة * - (2 / 155)

 قَوْلُهُ : ( وَيُشْتَرَطُ تَرْتِيبُهُ وَمُوَالَاتُهُ ) فَلَا يُعْتَدُّ بِغَيْرِ مَا رَتَّبَ وَيُعِيدُهُ فِي مَحَلِّهِ ، وَيُكْرَهُ عَدَمُ تَرْتِيبِهِ إنْ لَمْ يُغَيِّرْ الْمَعْنَى وَإِلَّا فَيَحْرُمُ ، وَلَا يَصِحُّ وَلَا يُعْتَدُّ بِغَيْرِ الْمُتَوَالِي عَلَى مَا يَأْتِي وَالْإِقَامَةُ كَالْأَذَانِ

Komentar

Postingan populer dari blog ini

62. Berbakti Kepada Mertua

Pertanyaan : 1. apakah kita juga diperintahkan untuk berbakti kepada mertua sebagaimana kita diperintahkan untuk berbakti pada kedua orang tua ? 2. Apakah ancaman uququl walidain juga mengarah pada menantu yang durhaka pada mertuanya? Jawaban : 1. Berbakti Kepada Keluarga Dan Sanak Saudara Merupakan Anjuran Dari agama, Namun dalam Urutan yang Perlu Didahulukan adalah Ibu Kandung, Ayah Kandung, anak, Kakek dan Nenek, saudara Kandung Dan Seluruh Mahram Kemudian Mertua. Jadi kita Juga dianjurkan Untuk berbakti Kepda Mertua Namun Tidak Setara Dengan Anjuran kita Berbakti Kepada Orang Tua. 2. Karena Berbakti Kepada Mertua adalah Sebagaimana Bermuasyarah Dengan Mahram yang lain, maka Durhaka Kepdanya Tidak sama Dengan durhaka Kepda Orang Tua. Ibarat : كتاب بر الوالدين وصلة الأرحام : ٣٧ . قال الإمام النووي رحمه الله: يستحب أن تقدم الأم في البر ثم الأب ثم الأولاد ثم الأجداد والجدات ثم الأخوة والأخوات ثم سائر المحارم من ذوي الأرحام كالأعمام والعمات والأخوال والخالات ويقدم الأقرب...

66. Sholat Taraweh Di sela2i Ngopi

  Deskripsi Masalah : Di suatu daerah mengadakan sholat traweh dengan cara mengakomodir yang 8 dan 20 rokaat, Dengan cara : setelah mendapat 8 rokaat  langsung witir. Dan Yang Ingin Melanjutkan 20 Rakaat pada waktu pelaksanaan ini Mereka Ada yang diam, duduk/ ngopi dan Lain- lain dan ada juga yang ikut witir kemudian melanjutkan tarowehnya. Pertanyaan: Bagaimana hukum taraweh yang disela-selai istirahat ngopi atau sholat witir ? Jawaban : Taroweh Yang diputus dengan sholat sunnah lain ataupun Pekerjaan Lain, dan Kemudian Dilanjutkan Lagi, Maka Hal Ini diperbolehkan Dalam artian Tetap Bisa Dilanjutkan Untuk Menyempurnakan Bilangan Taroweh Hingga 20 Rakaat. Namun Hal Ini menyalahi Yang Lebih Utama (Khilaful Afdlol). Catatan : 1. Ulama sepakat bahwa Masyru' (disyariatkan) sholat tarawih adalah 20 rokaat, sebagaimana ijma' dari shahabat dan Khulafaur Rasyidin. 2. Yang tidak meyakini atas bilangan tersebut termasuk mukholif (bertentangan) dengan ijma para shahabat. ...

63. Menjadi wali nikah saudari hasil Zina.

  Deskripsi Maslah : Sebut saja Marni Seorang perempuan, dan dia hamil, kemudian dinikahi oleh Pardi, Lalu lahirlah anak perempuan Diberi nama Marna, Jarak sekian tahun lahir anak kedua laki-laki Diberi Nama Parno, Kemudian jarak sekian tahun sang ayah Meninggal Dunia. Pertanyaan: Bolehkah si adik lelaki tersebut menjadi wali nikah bagi kakak perempuannya ? Jawaban : Urutan Wali Dalam Pernikahan Adalah Sebagai Berikut : Ayah, kakek (dari sisi ayah), saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman (saudara ayah sekandung), paman (saudara ayah seayah), anak laki-laki paman sekandung lalu anak laki-laki paman seayah dan seterusnya. Marna Dalam kasus Diatas Apabila Lahir Setelah  minimal 6 Bulan Dari Waktu Pernikahan dan Dimungkinkan Terjadi Hubungan Suami Istri antara Marni dan Pardi, Maka marna Bisa Bernasab Kepada Pardi. Sehingga Status Daripada Parno adalah...