Langsung ke konten utama

Qunut Dua Kali


*Rumusan Jawaban Takror 30 Mei 2020, *


Terjadi Di Masjid Daerah Sekitar Kecamatan Balung.
Solat Maghhrib Ada Qunut 2 kali (Saya Yakin Qunut Nazilah)
1. Qunut pertama Pada rokaat ke dua.
2. Qunut kedua Rokaat terakhir

Klarifikasi Masalah:  Setelah selesai Sholat. Saya Tanya Ke Salah satu jamaah Masjid,  katanya Memang seperti itu Setiap Solat magrib   (Ada 2 qunut Nazilah, yakni pada saat i'tidal rokaat ke dua,  Dan rokaat ke tiga)

Pertanyaan : Bagaimana Hukumny Sholat dengan dua Kali Qunut Seperti DI atas ?

Jawaban : Kejadian yang dijelaskan dalam Kasus diatas terjadi Pada saat ada Pandemi melanda, sehingga Besar kemungkinan Qunut yabg dilaksanakan adalah Qunut Nazilah. Seharusnya Qunut tersebut cukup dilakukan satu kali saja pada waktu I’tidal dalam rakaat terakhir (Misal Pada Rakaat ke tiga dalam sholat Maghrib). Sedangkan dalam praktek pada soal Juga terjadi pembacaan Qunut Pada I’tidal dalam Raka’at kedua yang Secara Prinsip Dasar I’tidal Merupakan Rukun Qosir (Rukun sholat yang Pendek) dan tidak diperkenankan menambahi bacaan selain yang sudah berlaku dalam Rukun Qosir tersebut. Sehingga Penambahan Bacaan Do’a Qunut Pada Rakaat Kedua Dapat membatalkan sholat. Hal ini sesuai dengan Pendapat yang Kuat (Ashoh) dalam Madzhab Syafii. Sedangkan menurut Pendapat kedua (Muqobil Ashoh) Praktek tersebut tidak membatalkan sholat dan pendapat kedua ini di dukung oleh Qodli Abu Tahoyyib.

Ibarat :
*حاشية الجمل - (ج 4 / ص 173)*
( وَلِسَهْوِ مَا يُبْطِلُ عَمْدُهُ فَقَطْ ) أَيْ : دُونَ سَهْوِهِ سَوَاءٌ أَحَصَلَ مَعَهُ زِيَادَةٌ بِتَدَارُكِ رُكْنٍ كَمَا مَرَّ فِي رُكْنِ التَّرْتِيبِ أَمْ لَا وَذَلِكَ ( كَتَطْوِيلِ رُكْنٍ قَصِيرٍ وَهُوَ اعْتِدَالٌ ) لَمْ يُطْلَبْ تَطْوِيلُهُ
( قَوْلُهُ أَيْضًا كَتَطْوِيلِ رُكْنٍ قَصِيرٍ ) بِأَنْ يُطَوِّلَ الِاعْتِدَالَ زِيَادَةً عَلَى الذِّكْرِ الْمَشْرُوعِ فِيهِ بِمِقْدَارِ الْفَاتِحَةِ وَيُطِيلُ الْجُلُوسَ زِيَادَةً عَلَى الذِّكْرِ الْمَشْرُوعِ فِيهِ بِمِقْدَارِ أَقَلِّ التَّشَهُّدِ بِالْقِرَاءَةِ الْمُعْتَدِلَةِ فَلَا تُعْتَبَرُ قِرَاءَةُ الْمُصَلِّي نَفْسِهِ وَلَا يُفْرَضُ الْإِمَامُ لِغَيْرِ مَحْصُورِينَ مُنْفَرِدًا فَالْعِبْرَةُ بِحَالِ الْمُصَلِّي ا هـ ح ل وَقَوْلُهُ عَلَى الذِّكْرِ الْمَشْرُوعِ إلَخْ وَهُوَ رَبُّنَا وَلَك الْحَمْدُ إلَى وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْك الْجَدُّ أَيْ : التَّطْوِيلُ الْمُضِرُّ فِي الِاعْتِدَالِ أَنْ يَمْضِيَ زَمَنٌ يَسَعُ الذِّكْرَ الْمَشْرُوعَ فِيهِ وَالْفَاتِحَةَ وَفِي الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ أَنْ يَمْضِيَ زَمَنٌ يَسَعُ الذِّكْرَ الْمَشْرُوعَ فِيهِ وَأَقَلُّ التَّشَهُّدِ كَمَا فِي شَرْحِ م ر ا ه
(ﻗﻮﻟﻪ ﻟﻢ ﻳﻄﻠﺐ ﺗﻄﻮﻳﻠﻪ) ، ﻭﺃﻣﺎ ﻣﺎ ﻳﻄﻠﺐ ﺗﻄﻮﻳﻠﻪ ﻛﺎﻻﻋﺘﺪاﻝ اﻷﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﺼﺒﺢ ﻭﻛﺬا ﻛﻞ اﻋﺘﺪاﻝ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﻋﻨﺪ اﻟﻌﻼﻣﺔ اﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻭﻟﻮ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻭﻗﺖ اﻟﻨﺎﺯﻟﺔ ﻷﻧﻪ ﻋﻬﺪ ﺗﻄﻮﻳﻠﻪ ﻓﻲ اﻟﺠﻤﻠﺔ ﻭﻋﻨﺪ اﻟﻌﻼﻣﺔ اﻟﺮﻣﻠﻲ

*المجموع شرح المهذب - (ج 4 / ص 126)*
(فرع) قال الاصحاب القيام والركوع والسجود والتشهد اركان طويلة بلا خلاف فلا يضر تطويلها قال البغوي ولا يضر ايضا تطويل التشهد الاول بلا خلاف قال اصحابنا الخراسانيون والاعتدال عن الركوع ركن قصير امر المصلي بتخفيفه فلو اطاله عمدا بالسكوت أو القنوت حيث لم يشرع أو بذكر آخر فثلاثة اوجه
- أصحها عند امام الحرمين وبه قطع البغوي تبطل صلاته الا حيث ورد الشرع بالتطويل في القنوت أو في صلاة التسبيح وقد قطع المصنف بهذا في قوله أو يطيل القيام بنية القنوت ومراده اطالة الاعتدال وذكره في القسم الذى تبطل الصلاة بعمده
- والثانى لا تبطل كما لو طول الركوع وبه قطع القاضى أبو الطيب
- والثالث ان قنت عمدا في اعتداله في غير موضعه بطلت صلاته وان طوله بذكر آخر لا بقصد القنوت لم تبطل هذا نقل الاصحاب

*روضة الطالبين - (ج 1 / ص 405)*
 فرع: الاعتدال عن الركوع ركن قصير، أمر المصلي بتخفيفه. فلو أطاله عمدا بالسكوت، أو القنوت، أو بذكر آخر ليس بركن، فثلاثة أوجه. أصحها عند إمام الحرمين وقطع به صاحب (التهذيب): تبطل صلاته، إلا حيث ورد الشرع بالتطويل بالقنوت، أو في صلاة التسبيح. والثاني: لا تبطل. والثالث: إن قنت عمدا في اعتداله في غير موضعه، بطلت. وإن طول بذكر آخر لا يقصد القنوت، لم تبطل.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

63. Menjadi wali nikah saudari hasil Zina.

  Deskripsi Maslah : Sebut saja Marni Seorang perempuan, dan dia hamil, kemudian dinikahi oleh Pardi, Lalu lahirlah anak perempuan Diberi nama Marna, Jarak sekian tahun lahir anak kedua laki-laki Diberi Nama Parno, Kemudian jarak sekian tahun sang ayah Meninggal Dunia. Pertanyaan: Bolehkah si adik lelaki tersebut menjadi wali nikah bagi kakak perempuannya ? Jawaban : Urutan Wali Dalam Pernikahan Adalah Sebagai Berikut : Ayah, kakek (dari sisi ayah), saudara laki-laki sekandung, saudara laki-laki seayah, anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung, anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah, paman (saudara ayah sekandung), paman (saudara ayah seayah), anak laki-laki paman sekandung lalu anak laki-laki paman seayah dan seterusnya. Marna Dalam kasus Diatas Apabila Lahir Setelah  minimal 6 Bulan Dari Waktu Pernikahan dan Dimungkinkan Terjadi Hubungan Suami Istri antara Marni dan Pardi, Maka marna Bisa Bernasab Kepada Pardi. Sehingga Status Daripada Parno adalah...

66. Sholat Taraweh Di sela2i Ngopi

  Deskripsi Masalah : Di suatu daerah mengadakan sholat traweh dengan cara mengakomodir yang 8 dan 20 rokaat, Dengan cara : setelah mendapat 8 rokaat  langsung witir. Dan Yang Ingin Melanjutkan 20 Rakaat pada waktu pelaksanaan ini Mereka Ada yang diam, duduk/ ngopi dan Lain- lain dan ada juga yang ikut witir kemudian melanjutkan tarowehnya. Pertanyaan: Bagaimana hukum taraweh yang disela-selai istirahat ngopi atau sholat witir ? Jawaban : Taroweh Yang diputus dengan sholat sunnah lain ataupun Pekerjaan Lain, dan Kemudian Dilanjutkan Lagi, Maka Hal Ini diperbolehkan Dalam artian Tetap Bisa Dilanjutkan Untuk Menyempurnakan Bilangan Taroweh Hingga 20 Rakaat. Namun Hal Ini menyalahi Yang Lebih Utama (Khilaful Afdlol). Catatan : 1. Ulama sepakat bahwa Masyru' (disyariatkan) sholat tarawih adalah 20 rokaat, sebagaimana ijma' dari shahabat dan Khulafaur Rasyidin. 2. Yang tidak meyakini atas bilangan tersebut termasuk mukholif (bertentangan) dengan ijma para shahabat. ...

65. Waktu Mewuldu'i Jenazah

Deskripsi masalah. Diantara kesunahan2 memandikan mayit yaitu mewudhinya Pertanyaan: 1.  Mewudhui mayit dilakukan sebelum atau sesudah memandikan mayit?  2.  Bagaimana hukum mewudhui mayit Kalo semisal tempatnya mewudhui mayit adalah sebelum memandikan kemudian dilakukan setelah  memandikan? Jawaban : 1. Dalam Memandikan Jenazah Juga Disunnahkan Mewudlu'inya Sebagaimana Kesunnahan Wudlu' Dalam Mandinya Orang Yang Masih Hidup, Dan  Kesunnahan Wudlu' Ini Dilakukan Sebelum Memandikan Mayyit. حاشية الباجوري (ج 1 / ص 471) قوله: (ويغسل الميت) ويسن أن يتوضأ الميت قبله كالحي. ولا بد من كون غسله بفعلنا كما يؤخذ من كلام المصنف: ويغسل الميت، كاشفة السجا - (ج 1 / ص 260) (وأكمله أن يغسل) أي الغاسل (سوأتيه) أي دبر الميت وقبله بخرقة ملفوفة على يساره (وأن يزيل القذر) أي الوسخ (من أنفه وأن يوضئه) قبل الغسل كالحي ثلاثاً ثلاثاً بمضمضة واستنشاق ويميل رأسه فيهما لئلا يصل الماء باطنه التقريرات السديدة 1 / 121 الكيفية المسنونة للغسل - - -إلى ان قال - - الو...